Ocehan Sempurna

Hans selalu terdiam mendengar ocehan dari orang-orang untuk menjadikannya sempurna versi mereka. Menurut ibunya Hans harus menjadi seorang laki-laki yang tidak boleh kasar dengan pasangannya. Menjadi tulang punggung yang berwibawa, supaya kelak membawa kebahagiaan tiada banding. Lalu, kenapa ayahnya bertindak terbalik?

Mereka seperti tidak ada habisnya untuk menuntut ini dan itu. Tapi, kalaupun Hans membalas perkataan mereka pasti akan kalah suara. Hans Fazzie. Seorang pemuda tanggung yang sebentar lagi tamat sekolah SMK. Tinggal di sebuah kontrakan yang penuh dengan kesederhaan, membuatnya sadar ia bukanlah siapa-siapa di banding dengan mereka yang selalu menjulang di atas sana. Para pembohong yang selalu saja diamini oleh rakyat biasa sepertinya. 

Setelah selesai berkemas untuk berangkat ke sekolah, ibunya memberikan uang saku yang cukup. Jarak antara kontrakan dengan sekolahnya lumayan, memakan waktu dua puluh menit untuk sampai. Bisa dibilang Hans siswa rajin, tidak luput yang namanya mengerjakan tugas. Kak Dizzy selalu berpesan untuk tidak menyia-nyiakan waktu, tak mengapa jikalau serba kecukupan setidaknya pengetahuan lebih dari cukup. Karena, ilmu akan digunakan sampai kapanpun, selalu saja ada hal-hal baru yang berterbangan menuju pusat pengetahuan.

Rupanya Hans terlalu lama melamun sehingga tidak menyadari Metromini sudah bertengger di depan gerbang sekolah. Setelah membayar Metromini Hans bergegas menuju perpustakaan, masih ada waktu sebelum bel berbunyi. Perpustakaan setiap hari tidak lebih dari sepuluh orang yang berkunjung. Kecuali memang ada pembelajaran di perpustakaan. Setelah menelusuri lorong buku, Hans menemukan satu judul yang menarik perhatian.

Termasuk buku lama, terlihat dari kertasnya sudah menguning. Sampul hitam yang bergambarkan orang berkacamata, seperti Programmer. 'Night Of Chaos' Hans rasa ini cetakan lama, setelah membaca blurb buku ia tertarik untuk meminjamnya. 

"Hans, mau minjam buku lagi?" ia mengangguk untuk membalasnya.

"Kamu itu jadi peminjam tetap mingguan tahu. Ibu senang seenggaknya ada salah satu murid di sekolah ini yang suka baca, selain si Ratih," ujarnya sembari menulis namanya di buku pinjaman. "Lagian kalau ibu pikir, miris juga, ya, minat baca di sekolah kita. Meskipun hanya novel yang dibaca. Setiap penulis pasti memberikan sedikit ilmu dibukunya, sama saja kan menambah ilmu. Jadi, jangan malu, ya, meskipun hanya baca novel. Ilmu itu gratis."

"Iya, bu. Mari." Hans mengangguk sopan untuk berpamitan dengan penjaga perpustakaan, dengan segera ia menuju ke kelasnya. Sembari menyapa teman yang dikenalnya, terlihat dari kejauhan kelasnya ramai seperti biasa. Kalau dimaklumkan ramai setiap hari Rabu, ya, memang. Guru Olahraga jarang masuk.

Hans melewati mereka semua, sama sekali tidak berminat untuk gabung dengan mereka. Menyebalkan sekali bersenda gurau tanpa ada hal berfaedah yang diserap. Setelah berada di meja kedua setelah meja guru, Hans menaruh tas di atas meja lalu membuka halaman pertama buku yang dipinjamnya. Tak lama kemudian Hans larut masuk ke dalam cerita Pak Jofry.

***

Sepulang sekolah tadi Hans dipanggil oleh guru Kesiswaan untuk memberitahu hal penting. Terdengar suara AC berbunyi di ruangan ini, lalu terlihat berbagai dokumen yang mungkin belum dipindahkan ke dalam laptop guna lebih ringkas dan lebih efisien dalam mendata. 

Nampak sosok pria berbadan tegap, menggunakan kacamata entah minus berapa dilengkapi jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Lalu, rambutnya yang selalu tertata rapi. Beliau Pak Hisyam, guru Kesiswaan paling ketat di sekolahan.

"Hans Fazzie? Kelas XII Otomotif 4?" 

"Betul, Pak."

"Begini, Bapak bermaksud untuk menyampaikan berita bagus untukmu," ujarnya menggantung membuatnya penasaran.

"Pihak perusahaan ini menawarkan pekerjaan yang menggiurkan, bahkan dari pihak Direktur sendiri. Beliau sudah mendengar sendiri tentang kinerja kamu, kalau kamu terima, selepas lulus bisa langsung menemui beliau." Kata Pak Hisyam sembari memberikan surat mengenai maksudnya tersebut. Setelah menerima kabar baik ini Hans berpamitan dengan beliau. 

Hans menatap ke arah langit-langit kamar, bisa dibilang sudah keropos. Terlihat cat putih yang mengelupas di mana-mana. Seakan menerima semua kisah-kisah yang tersembunyi di dalamnya. Hans menghela napas gusar memikirkan semua ini. Dari kamar ini tercium bau menggiurkan. Ibu sedang memasak makan malam rupanya. Segera Hans bergegas menemuinya ke dapur.

"Kak Zy sudah pulang, Bu?"

"Belum, tunggu saja. Sebentar lagi pulang."

Hans keluar dari rumah, hendak pergi ke suatu tempat. "Hans! Mau pergi ke mana?" seru ibunya ketika mendengar langkah kaki sang anak melangkah ke luar. 

Namun, Hans tidak menyahuti ibunya, ia meneruskan langkahnya. Hans yakin kakaknya sudah pulang sejak tadi. Meskipun Dizzy tidak menampakkan mukanya di rumah, dia pasti ada di suatu tempat. Sebuah bangunan luas beratapkan langit dan udara Jakarta yang panas meskipun senja sore ini tidak membohongi betapa ganasnya tirani di atas sana.

Hans menaiki tangga di samping bangunan yang tidak terpakai lagi. Nampak mural buatan anak sekitar sudah mulai memudar. Setelah tangga terakhir yang Hans naiki, ia melihat punggung seorang wanita. Lantas ia mendekat ke arahnya.

"Kak Zy tahu, kamu pasti ke sini," Hans tersenyum tipis mendengarnya, ia duduk di sampingnya.

"Mau gelato? Mau rasa Vanilla atau Matcha?"

"Mau nyobain Matcha deh, kak. Bosen Vanilla terus."

Sembari memakan gelato di tangannya, Hans ingin membicarakan hal serius dengan kakaknya. Tapi, ia urungkan sejenak, karena momen memakan gelato bersama kakaknya termasuk hal yang jarang. Dizzy yang melihat gelagat aneh dari adiknya langsung berdehem keras, "mau cerita apa sama kakak?"

"Sepulang sekolah tadi, Hans dapat tawaran pekerjaan. Hans bingung, diterima atau nggak, ya, kak?

"Bagus dong, terima saja. Tapi, kalau syarat dan ketentuannya memberatkan kamu, ya sudah ditolak saja," Hans menghela napas gusar. Apa yang diomongkan oleh kakaknya benar. 

"Berarti kalau Hans menerima tawaran itu, semua perkataan orang untuk membuat Hans menjadi sempurna bisa hilang sepenuhnya?"

"Nggak, nggak bakal bisa, Hans. Semua pernyataan dan pertanyaan dari mereka nggak bakal bisa kita hilangkan begitu saja. Karena, kita bukan pemegang sistem pusat pemikiran orang-orang, Hans. Mau mereka membicarakan kita tentang menjadi sempurna, menyuruh kita untuk menjadi orang yang haus akan kekuasaan, atau bahkan menanyakan selepas meninggal kita akan menjadi apa. Kalau kamu mau menerima pekerjaan itu dan berdalih untuk membungkam mulut mereka, percuma Hans. Lebih baik semua yang kamu lakukan itu buat diri sendiri, kita hidup bukan untuk orang lain."

"Kak, kalau Hans meninggal apa semua pertanyaan itu masih menghantuiku?" 


[13 September 2021]

*Repost



Postingan Populer