Apakah Bumi Pernah Benci?

Sudah berapa jam aku menunggu temanku, Keira, untuk pulang bersama. Saat istirahat terakhir kita memang janjian untuk pulang bersama, memang kita beda kelas, berbeda jurusan pula.

Aku jurusan IPA sedangkan dia jurusan IPS. Ya, Keira ini tipikal cewek cantik, salah satu primadona di jurusannya. Apalagi matanya hitam legam, kulit sawo matang yang menjadikannya lebih terlihat cerah. Bulu matanya yang lentik menambah aksen kalau dia Keira Amanda. Rambut hitamnya yang dia biarkan menjuntai indah.

Sialnya, hujan turun hari ini. Februari memang menjadi tempat awan untuk menitikan airnya yang selama ini ia tahan. Sebenarnya aku tidak takut hujan, tapi karena hari ini lupa membawa payung jadi pas pulang pasti hujan-hujanan.

"Nunggu siapa, Safa?" Seseorang mengajakku berbicara, aku menoleh ke arah samping kanan. Kulihat teman sekelas Keira sedang bersiap untuk pulang.

"Ah, aku nunggu Keira." Kulihat pergerakan bola matanya yang mengarah ke dalam kelas.

"Dia lagi ikut kelas tambahan, biasa sering remidi jadi ya, kamu tahu sendiri kan desas-desus Pak Dio kalau ada siswa yang remidi lebih dari dua kali." Katanya sambil diiringi tawa yang dibuat sekecil mungkin.

Aku ingat tentang rumor itu, "Jadi, Keira yang katanya bisa pelajaran apa saja, dia—"

Mendengar ocehanku, dia tertawa lagi.

"Ya, begitulah. Palingan setengah jam lagi udah selesai," Melihatku yang bingung dia kembali memberitahuku, "Oiya, namaku Diar." Lantas aku melihat nametag yang menempel di bajunya, Diar Praksara. Nama yang bagus.

Aku tersenyum menanggapinya, "Oiya, kamu tahu namaku dari mana?" Alis matanya terangkat satu. Kemudian Dia tertawa lepas. Diar duduk di bangku sebelahku, mungkin capek kali ya berdiri terus.

"Safa, kamu lupa ya? Kamu itu terkenal, lho. Semua orang tahu." Kok bisa?

Aku hanya diam sembari memandanginya lebih dalam, meminta penjelasan lebih lanjut. "Aku terkenal?"

"Kamu lupa?"

"Lupa tentang apa?"

Diar mendesah pelan, "Si Keira tuh yang mulutnya nggak bisa dikontrol, selalu aja ngomongin kamu. Jadi, ya, kamu terkenal."

Aku tetap tidak mengerti maksudnya, aku terkenal karena apa? Padahal kan nilai juga biasa saja, tidak ada yang spesial.

"Iya, terkenal di kelasku. Saja." Katanya sembari tertawa lapas, lagi.

Karena kapasitas otakku yang pas-pasan ini, mencoba memahaminya lebih dalam. Lalu, satu menit kemudian aku ingin marah sekali kepadanya. "Ya, itu mah namanya nggak terkenal kali, Diar."

Diar tertawa keras mendengar kekesalanku. Karena sudah jengah aku tidak meladeninya lagi.

Setelah tawanya berhenti Diar memberiku pertanyaan yang membingungkan, "Eh btw, menurut kamu hidup ini enak atau nggak? Bumi pernah benci nggak ya menerima manusia baru?"

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Diar diam, seakan mencari jawaban di antara ribuan pertanyaan yang dia pendam.

Aku menatap matanya beberapa saat, mencoba mencari di mana letak kekesalan.

Aku tetap diam.

"Kalau kamu nggak tahu jawabannya, yaudah nggak apa-apa." Katanya begitu sembari menatap langit yang masih menumpahkan airnya.

"Kalau aku tahu?"

Diar mentapku dengan sendu, "Berarti aku nggak sendirian."

"Hidup itu tergantung orang yang mau menikmatinya, kalau nikmatin bahagianya doang nggak enak."

"Kebahagiaan kan puncak surgawi dunia, Fa."

"Lalu, kesedihan itu puncak neraka dunia?"

"Ya, nggak tahu juga sih." Diar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kalau bumi benci manusia baru, terus kenapa dia masih mau ada dan belum hancur sampai sekarang?"

"Kalau manusia yang membenci bumi karena dia telah terlahir ke dunia gimana?"

"Lalu, kenapa Tuhan mengijinkan kamu untuk hadir?"

"Aku tidak tahu." Diar memandangi sepatunya yang basah karena terkena air hujan.

Aku memandangi Diar yang entah kenapa ada banyak sekali sekat sakit di dalamnya. Diar, seorang laki-laki yang aku kenal beberapa saat berhasil membiusku untuk tenggelam dalam pertanyaan anehnya.

Diar menghela napasnya pelan, entahlah aku tidak tahu dia sedang ada masalah apa. Bukan hakku, biarlah jadi urusannya.

"Mmm, aku duluan ya? Kamu tunggu Keira aja. Sebentar lagi juga udah selesai." Ucapnya diakhiri dengan senyuman yang menonjolkan lesung pipit di sebelah kiri, astaga lama-lama Diar mirip Nanon.

Kulihat Diar bersiap pulang.

Aku iyakan saja kepergiannya, lagi pula kalau pun Diar di sini lebih lama, aku bakal darah tinggi.

Beberapa siswa IPS berhamburan keluar kelas 'tambahan' seperti Keira. Sistem sekolahan kita memang seperti ini, siapa pun yang remidi lebih dari dua kali, maka ada kelas tambahan. Tidak buruk juga tentang kelas tambahan ini, lagi pula biar semakin giat belajar kan? Walaupun tidak tahu menahu tentang pelajarannya.

Aku mendesah berat, ternyata lama juga ya setengah jam itu. "Kantin masih buka nggak ya?" Aku bermonolog yang kutahu itu retoris. Kantin tutup jam empat, sedangkan ini masih jam setengah empat lebih.

Ketika niatku untuk membeli makanan ringan pengganjal perut yang entah kenapa seperti puasa tiga hari tiga malam. Keira keluar dari kelas dengan tas berwarna kebanggaannya, Lilac.

Ntahlah warna yang sekarang menjadi kesukaan bagi semua orang ternyata tidak nyaman di mataku. Aku sudah jatuh cinta dengan warna oranye, warna teduh dan menenangkan. Dan itu adalah dia.

"Eh, Safa. Ketahuan dong, hehe."

"Kamu mah kebiasaan, apa-apa pengen sempurna. Sedangkan kesempurnaan adalah hal fana."

"Mulai nih, ceramah ala anak indie, kebanyakan dengerin Fourtwnty sama Dialog Dini Hari sih."

"Apaan sih, itu kan selera musikku, Keira. Dengerin mereka tuh, kayak aku lebih bisa memaknai beberapa hal yang kadang sifatnya paradoks."

"Idih, mulai tuh bahasanya tinggi. Apa sih, paradoks-paradoks tuh paramedis yang lebih bisa ngerti cara nyembuhin orang sakit." Mata Keira menatapku tajam.

"Atau, jangan-jangan kamu sakit nih, Fa. Kebanyakan minum kopi sachet. Mending kopi Starbucks, lebih berkelas ya walaupun dikit."

"Keira astaga, mulut kamu biadab sekali ya ternyata."

Gestur tubuhnya sedikit ingin menantang perkataanku, memang benar kan? Biadab.

"Lah emang, eksistensi dunia sekarang kan gitu, Fa. Pengen tinggi walaupun tangga untuk meraihnya udah patah di tengah jalan."

"Idih-idih, udah mulai ada pesona indie."

"Itu juga karena kamu, Safa."

Kulihat mukanya masam mendengar ocehanku. Sekolahan tampak mulai sepi, hanya ada kakak kelas yang sedang mengikuti kelas tambahan untuk Ujian Akhir.

Rasanya seru, ketika lawan bicaramu menanggapi ocehan-ocehan ringan yang menurut mereka tidak bermakna. Tidak ada yang lebih indah ketika berteman adalah berantem. Karena, beberapa bagian dalam pertemanan berantem itu udah jadi hal lumrah.

Itu terjadi kepadaku dan Keira, teman sekaligus sahabatku. Aku mengenal baik dia ketika kami sebangku pas SMP dulu.

Mungkin keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Hujan mulai reda, masih bisa ditolerir gerimis yang datang dari langit. Jarak antara sekolah dengan halte bus tidak terlalu jauh.

"Mau mampir ke tempat biasa?"

Masih ada waktu sebelum ibu menerorku kenapa pulang telat. Setidaknya masih ada waktu sebelum jam lima sore. Aku mengangguk menyetujui idenya, tempat biasa.

Tidak butuh lama untuk sampai ke tempat itu. Tempat nongkrong kami, apalagi kalau bukan, seblak. Makanan sejuta umat kaum hawa.

"Biasa?"

"Iya."

"Satu porsi seblak tulang, pedes, pakai jeruk nipis sedikit, jangan dikasih sayur, dan telor ceplok."

Tawaku dan Keira menggema saat memesan seblak yang sama. Makanan favorit kami.

Setelah memesan, kami duduk di meja dekat jalan raya. Spot paling nyaman untuk beradu argumen. Mengomentari orang, baju trendy, makanan, minuman, skincare, bahkan ujung dunia itu di mana.

Aku menyibukkan diri dengan bermain ponsel sebentar, mengecek pesan apakah ibu menanyaiku atau tidak. Seperti yang sudah aku duga, beliau masih bisa di toleransi.

Keira yang sedang menatap jalanan tiba-tiba menepuk keras lenganku. Aku tidak mengindahkan peringatan darinya, tetap saja bermain ponsel. Aku tahu Keira sedang usil, sudah pasti itu.

"Safa Hapidya!" Teriaknya kencang sembari menepuk lebih keras lenganku. Kutengok ke arahnya, tapi Keira sudah menghilang.

Aku mencarinya ke sekeliling ruangan, lalu mataku tertubruk pada sepeda motor dengan mobil besar yang tergeletak di depanku.

Tunggu, sepeda motor warna biru, tas ransel berwarna abu-abu. Tunggu. Aku segera berlari ke arahnya untuk melihat siapa dia.

Darah segar bercucuran di kepalanya, mulutnya terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Keira, dia di sampingku terkejut dan lemas.

Dia, Diar Praksara.

"Fa, Diar. Dia masih hidup kan, Fa?" Ucapnya sembari mentapku dengan air mata yang terus mengalir, perasaannya tulus menangisi kepergian Diar.

Aku menatap kembali matanya, mencoba menjelaskan dengan bahasa isyarat. Karena, untuk menjelaskan realita yang tidak menyenangkan itu sangat sulit. Ia luruh di pelukanku.

Diar teman kami, mati di hadapanku.

"Jadi, Tuhan, kematian itu hal yang menyenangkan atau tidak?"                                   


                      

Postingan Populer