Aku Belum Siap

"Hei, udah lama?" Katanya membuatku tergelonjak kaget, aku mengangguk untuk memberinya jawaban. Seperti biasa, dia mengenakan hoddie warna abu-abu yang menjadi ciri khasnya.

Dia duduk di bangku sebelahku, sepatu converse yang sudah kumal belum juga dicuci olehnya. Katanya kalau dicuci bisa mengurangi eksistensi dari sepatunya. Halah alasan saja, ngomong saja males nyuci sepatu.

"Minta ya?" Katanya sembari mengangkat air putih yang sudah setengah aku minum. Untung saja aku kalau minum air putih ditenggak, kebiasaan aneh yang sudah mendarah daging sepertinya. 

"Udah selesai kelas lu?"

"Udah, setengah jam yang lalu sih. Tapi, tadi ada masalah sama fakultas sebelah. Biasalah." Aku mengangguk takzim, walaupun nggak terlalu tahu tentang masalahnya itu. 

"Baca apaan lu, tumben."

"Idih, heran gua sama lu. Ngelakuin apa aja selalu salah di mata yang katanya keturunan Leonardo DiCaprio." Dia terkikik geli.

"Lah, emang gua keturunan dia. Nggak percaya?"

What the hell, siapa coba yang percaya kalau dia keturunan beliau. Yang ada halu tingkat akut.

"Serah lu, iyain biar diem."

"Mau ngomong ke berapa kali biar lu percaya kalau gua keturunan beliau?" Matanya mengawasi pergerakan tubuhku, rasanya mati kaku. Nggak bisa bergerak sedetik pun, matanya terlalu menyeramkan. Sontak kusingkarkan mukanya dari hadapanku.

"Apaan sih, itu mata lu banyak kotorannya. Jorok banget, padahal masih pagi. Lu kalau mandi tuh jangan pake air AC."

"Mulai, mulai dah mulut pedasnya." Katanya sembil mengacak rambutku yang sudah aku tata sedemikian rupa, memang bebal manusia satu ini kalau diomongin biar nggak mengacak-acak rambutku yang super yahud.

Kenapa coba aku betah temenan sama manusia aneh, ngeselin kaya dia? Tapi, kalau aku beneran udah nggak lagi tinggal bareng dia di dunia ini, pasti hidupnya tentram, damai, dan tenang.

"Besok gua pergi ya." Celutukku tiba-tiba.

"Ke mana?"

"Ke tempat yang belum gua kunjungi selama hidup."

"Ah elu, kayak mau mati aja."

Aku terdiam sebentar kemudian memandanginya, "Mungkin."

"Mungkin yang nggak bakal terjadi."

"Why? Kan itu hal pasti, jangan bilang lu takut kehilangan gua, iyakan? Ngaku deh, nggak usah sok jaim."

Dia enggan menjawab pertanyaanku, kulihat dia tetap bergeming dengan tatapan kosongnya. Entahlah, sedang apa kiranya aku nggak tahu. Mungkin dia terlalu mengesampingkan hal-hal pasti, seperti kematian. Hidupnya terlalu abu-abu sampai nggak tahu mana yang pasti dan tabu.

Aku hanya bercanda, aku belum siap mati.


@auiula


Postingan Populer