Alasan apalagi?
"Beri Aku alasan untuk tetap hidup."
Sebuah pernyataan yang mengganjal beberapa minggu silam. Pernyataan kecil yang membuatku bingung akan dibawa ke mana arahnya? Jangan berpikir aku akan mengakhiri hidup, hei, ngga. Aku ngga seceroboh itu, masih banyak harapan yang aku gantungkan pada udara.
Iya, pada udara, pada napas. Yang entah di detik ke berapa aku akan memeluknya dengan napasku. Bukan kah ketika kita masih bernapas semuanya bisa kita pegang? Walaupun kadang ada batasan-batasan ngga terlihat. Entah batasan bahasa kalbu atau bahasa isyarat yang memungkinkan untuk ngga bisa di terjamahkan dan digenggam, mau sekuat apapun.
Aku semakin berputar-putar mengenai pernyataan itu. Aku memang membiarkan otak untuk berpikir hal-hal random. Tapi bukan berarti aku akan kehilangan kendali, karena kan yang punya kendali penuh atas pikiran kita adalah diri sendiri kan?
Kenapa aku harus punya alasan untuk tetap hidup? Bukan kah bernapas sudah lebih dari cukup? Kalau ngga bisa napas artinya dunia fana yang kamu lihat hari ini akan menghilang dari pandanganmu. Manusia, kadang lupa sama hal-hal kecil untuk terus hidup.
Apa hal-hal di dunia harus punya alasan untuk tetap bertahan? Apa kamu punya alasan kenapa kamu berpikir?
Aku tahu setiap orang punya alasannya masing-masing, itu bagus, punya pegangan. Tapi, jangan sampai lalai memenuhi kewajiban sebagai manusia. Kamu hidup ngga sendirian. Kadang ada orang yang benar-benar lupa akan dibawa ke mana hidupnya. Lantas bingung, akhirnya memutuskan untuk tidak ingin menikmati udara di dunia.
Tapi, apakah mengakhiri hidup adalah jalan satu-satunya? Apakah mengakhiri hidup akan membuatmu bahagia? Apakah dengan mengakhiri hidup semuanya akan baik-baik saja? Kan ngga. Kamu lupa ya? Di dunia ini ada banyak jalan, entah bahagia atau sedih. Jalan-jalan itu emang penuh misteri, ngga ketebak. Bahkan kadang kehilangan orang-orang yang paling disayang.
Kalau kamu sedang berteman dengan kesedihan, bukan berarti kesenangan akan menjauhimu. Kamu duduk sebentar dengan sedih, berbincang hangat, menanyakan kabar kesedihan orang lain seperti apa. Tunggu sebentar, lalu senang akan datang. Hei, kamu itu hebat mau bertahan walaupun kadang semesta ngga selalu berpihak kepadamu.
Aku ingat perkataan temanku, "berharap ke semesta itu ngga dosa. Make a wish dulu yuk, apapun hasilnya jangan nyalahin semesta. Kamu sudah nentuin jalannya."
Lantas alasan apalagi yang harus aku telan untuk tetap hidup? Sedangkan ada banyak hal yang harus aku temui sebelum akhir mengakhiri semuanya?