Yang Namanya Kelompok

Aku jadi ingat kejadian beberapa waktu silam waktu masih KBM (kegiatan belajar mengajar). Seorang guru menyuruh untuk membuat kelompok sendiri, terserah yang penting ada kelompok. Tentu saja satu kelas bersorai seru, pun sama denganku. Ada yang sudah mengincar dengan siapa kelompoknya, menarik baju salah satu teman untuk satu kelompok, ada pula yang sudah menyiapkan kursi dan menjadikan 2 meja jadi satu biar muat banyak buku. Pun ada yang masih bingung mau dengan siapa kelompoknya.

Semuanya masih aku rekam dengan baik, mereka lucu, seru dan menyenangkan. Walaupun sewaktu-waktu mereka membuatku kesal, tapi tidak apa aku menerimanya. Selepas membentuk kelompok, guruku menuliskan 6 soal. Beberapa kelompok kebingungan untuk mencari jawabannya, di bagian meja belakang, kelompok terakhir mereka pada grusak-grusuk. Kebingungan untuk mencari jawabannya pun sama halnya dengan kelompokku.

Untungnya aku bersama angota kelompok yang otaknya encer. Temanku yang sekelompok bertanya, “Eh, no 1 gimana?” Aku hanya bisa nyengir tidak berdosa. Di karenakan aku paling tidak suka dan tidak megerti mengenai pelajaran ini. Dia gregetan sendiri, korban selanjutnya dia menanyakan kepada teman sebelahku, jawabannya sama ia tidak tahu. Dengan terpaksa dia mencari jawabannya sendiri, oke aku memang egois tidak membantunya. 

Aku iseng, menanyakan jawaban ke kelompok lain. Oh tentu saja mereka tidak mau memberikan jawaban itu secara cuma-cuma. “Ah mereka ngga asik.” Pikirku begitu. Aku kembali mengamati dia mencorat-coret sendiri mencari jawaban atas pertanyaan yang di berikan oleh guruku. Teman sekelompokku pun sama mengamatinya berusaha mengerti apa yang dia tulis, padahal tidak. Bukan kah begitu kalau sedang kerja kelompok?

Singkatnya dia berhasil menemukan ke-6 jawaban itu, ya, aku tahu aku egois. Kemudian, teman sekelompokku menulis jawaban masing-masing di selembar kertas. Ada yang menulisnya menggunakan pulpen, pensil, bahkan pulpen biru. Temanku yang laki-laki dia kebingunan sebab belum menulis karena pulpennya di pinjam oleh teman cewekku. Alhasil dia menunggu sampai selesai. Selepas itu, dia buru-buru menulis jawabannya, ada yang salah kemudian mengahapus menggunakan tipe-x. 

Belum juga dia selesai menyalin jawaban, guruku mengintrupsi untuk memberikan jawaban ke tangan beliau, untuk di koreski. Dengan setengah hati, temanku yang cowok memberikannya walaupun belum selesai. Selepas itu kami sekelompok bercerita ringan, biasa becanda. Kali ini, ucapan guruku berhasil menampar habis-habisan diriku. 

“Kenapa kok kalian sekelompok ngga ada kerja samanya? Mana? Kok sekelompok ngga selaras? Di lembaran ini, siapa ini namanya? Oh A kelompok 3, dia pakai pulpen merah. Tapi, si B yang satu kelompok pakai pulpen hitam. Ada lagi, ini kelompok 5 ada yang belum selesai, kenapa cuma si C doang yang belum?”

Sekelas cuma bisa diam, menelaah maksud dari ucapan guruku. Beberapa bingung maksud dari ucapan beliau, ada yang dia tapi pikiran mengawang. Aku? Aku mencoba mengerti, maksud dari perkataanya itu apa? 

“Kalian itu kerja kelompok. Yang artinnya semua harus kerja pun kelompok. Kalian ga boleh egois, kalian itu satu kelompok harus bisa membimbing satu sama lain. Kalian harus ada kesepakatan kalau pakai pulpen merah ya merah semua. Jangan acak-acakan kaya gini, paham kan maksud bapak? Yang namanya tim ya harus sama-sama, ga boleh ningalin satu sama lain.”

Semuanya masih diam.

“Oke, bapak akan bawa ini. Tapi, tidak akan di koreksi. Sekian terimakasih dari bapak.”

Sama-sama pak, terimakasih juga untuk pelajaran baru bagiku.  

Postingan Populer