Udah, ikhlasin aja
Lagi-lagi aku kehilangan sesuatu. Mungkin bisa di bilang ngga perlu disimpan. Mungkin juga sebagain orang menganggap hal ini sia-sia. Tapi, apakah mungkin itu harus menjadi sesuatu untuk orang lain juga? Tidak kan?
Mungkin ceritaku kali ini terdengar sepele. Tidak ada apa-apanya, tidak bermakna. Tapi, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kehilangan. Ya, jangan kaget. Semua orang juga terbiasa dengan kehilangan bukan? Bahkan dari kecil kita kehilangan tempat ternyaman pertama yang kita rasakan, ya, rahim ibu. Di sana memang nyaman dan aman. Tapi, lagi-lagi tuhan menginginkan kita untuk menguatkan lagi dengan yang namanya hidup.
Kadang, hidup itu lucu. Seringnya berbuat onar si, bisa jadi hari ini kehilangan sandal pas jumatan atau kehilangan satu biji bakso pas lagi enak-enaknya menikmati. Lucu ya? Kadang juga, hidup itu dramatis. Menurutku, hidup itu unik. Seperti dia, unik juga rumit. Lho, kok nyeleweng, haha.
Jadi, tanganku yang usil tadi sedang bebersih chat room wa. Soalnya penyimpanan ponsel mau habis, kinerja ponselnya pun lambat. Ya, benar ponselku ramnya ngga terlalu besar, sedengan lah, lho, kok bahas ponsel. Pertama, aku iseng tuh buat bersihin room chat group sahabat seperngengan. Apesnya aku ngga lihat ceklis apa aja yang di hapus. Langsung aku bersihkan, ya benar pesannya hilang semua. Kedua, aku membersihkan room chat dengan teman akrabku selama pembelajaran jarak jauh. Sama kasusnya, aku teledor. Usil, tidak mau diam tangannya.
Dan ya, pada akhirnya aku merasakan kehilangan lagi. Mungkin beberapa dari kalian merasa, "Dih, apaan? Begituan doang kok sampai sedih? Cuma chat doang. Ga usah lebay deh."
Ya, benar, ngga salah kok. Cuma kan prespektif kehilangan orang berbeda-beda, ya kan? Ada yang langsung nangis gara-gara kehilangan barang belanjaannya, nangis gara-gara es krimnya favoritnya udah habis semua. Semua orang punya porsinya masing-masing.
Tapi, satu hal yang sudah sering aku rasakan dan aku pelajari. Bahwa mungkin sesuatu yang membuatmu kehilangan ini bukan untukmu, bukan milikmu. Karena, yang namanya milikmu akan kembali. Lagi-lagi memaknai cara kerja waktu.
Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan Juli tanggal 21. Aku nyaris kehilangan akun platform untuk menulis yang berwarna oren, tahu kan? Sempat frustasi ngga? Oh iya jelas dong, siapa yang ngga frustasi kehilangan sesuatu yang sudah kamu anggap sebagai salah satu bagian darimu? Aku coba diskusi sama temenku, tetap saja dia tidak tahu cara mengembalikannya.
Dan anehnya, ketika aku mencari akun tersebut di google, aku bisa mengetik pesan di sana dengan alamat nama akunku. Aneh kan? Mungkin akun itu sudah tersambung di perangkat ponsel kali ya? Atau mungkin faktor keberuntungan? Ah, aku tidak tahu. Lagi-lagi aku di suruh mengikhlaskan, karena aku selalu percaya bahwa, "Kalau itu punya kamu pasti bakal balik kok, kalau bukan milikmu ya udah mengikhlaskan." Ya, dari situ aku banyak belajar mengikhlaskan.
Mau tahu kelanjutan keanehan itu? Apa? Akunnya kembali? Yap betul, setelah akun aku ke kunci alias ngga bisa masuk. Aku langsung mendaftarkan diri ke akun tempat menulis sebelah. Mencoba betah di sana, tapi tetap saja rasanya aneh. Semesta memang baik, beberapa hari kemudian tepatnya tanggal 27 Juli akunku bisa login. Tepat dua hari sebelum aku login, aku sudah berpamitan dengan akun yang sudah 2 tahun lamanya bersamaku. Panjang lebar tuh pamitannya, eh dua hari kemudian akunku balik.
Apa yang bisa aku ambil dari sini? Banyak dong, terutama tentang mengikhlaskan. Setelah mengetahui akunku ke kunci, aku mengingatkan diri sendiri untuk, "Udah ya? Ikhlasin aja, kalau punya kamu pasti bakal balik kok." Karena waktu punya cara sendiri untuk memberi jawaban.
@auiula