Katamu kita sama
Untuk terakhir kalinya harus bertemu dengan dinding tidak kasat mata. Duduk diantara tepian yang tidak pernah terlihat. Antara sisi iya dan enggan.
Terlalu sempit terkait berita berpindah lagi. Takut yang berkesudahan seperti halnya tiga tahun yang lalu. Tak perlu aku mengulang seperti apa sakitnya. Tetapi, aku akan selalu mengingatnya.
Ada yang enggan di senyuman anehnya, ada yang terlalu diam diantara suara tawanya. Terbiasa tidak mengerti perlu di tindaklanjuti. Ah, tak mengapa, katamu kita sama. Perihal itu, kita memang sama. Sama-sama menyemburkan enggan yang tidak berkesudahan.
@auiula